6 indikator pengelolaan kelas yang berhasil
Ditulis oleh agusampurno di/pada Maret 26, 2008
Pembaca sekalian, tulisan ini dibuat menyambut respon dari Ibu Ayu yang menanyakan mengenai indikator pengelolaan kelas yang berhasil. Uniknya melalui upaya menjawab pertanyaan beliau saya malah mendapat hal-hal yang baru. Salah satu yang membuat saya terkejut adalah perihal memberikan siswa konsekuensi, yang ternyata sama dengan mengancam siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.
1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.
1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.











Maret 26, 2008 pada 12:37 pm
Tulisannya menarik sekali
Trims kang Awan, agregator nya makin ramai saja ya..
Maret 26, 2008 pada 1:28 pm
semoga para guru bisa belajar dari blog pak agus ini.
salam,
Terima kasih Pak Progo,
Gimana kabar belajar puteramya, semoga diberi kelancaran oleh Allah SWT.
amin
April 3, 2008 pada 8:47 am
Hmmm …
(Banyak istilah baru bagi saya yang awam teori didaktika - paedagogy ini …
Terima kasih sharingnya ya pak …
Aku mau tanya : Apa ini berlaku juga untuk proses belajar mengajar orang dewasa nggak ya pak …?
Dimana ya saya bisa dapat literaturnya … mengenai Andragogy ini …
Silahkan pak NH,
ini link nya
April 3, 2008 pada 4:28 pm
membaca blog Bung Agus sekalian meningkatkan trefik yea !
*salam dua jari*
Thanks mas Rudhy
April 3, 2008 pada 11:57 pm
Pak kok belum ada postingan baru nih ?
kabar sekolah putra saya ? ……capek deh ….(ngontrol kerja pegawai negeri (gurunya) dan anak abg) …..
kalau udah usaha ya tinggal doa pak .
Betul Pak Progo,
semoga lancar semuanya
April 4, 2008 pada 10:24 am
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/pendidikan/6_indikator_pengelolaan_kelas_yang_berhasil/
April 5, 2008 pada 5:28 am
met kenal mas Agus dari saya moga-moga tulisannya moga-moga bisa meningkatkan kualitas guru dalam mengajar
terima kasih atas doanya
Salam kenal
Mei 3, 2008 pada 1:28 pm
makasih infonya, hope it will become my reminder to improve myself in managing my class.
Sama-sama Mbak Indri, semoga bisa terus semangat dalam mengelola kelasnya.
Amin
Mei 4, 2008 pada 4:41 am
mengelola dan mendisiplinkan itu yg gmn pak?
Dua hal yang anda sebutkan adalah hal yang sangat berbeda. Mengelola berarti menerapkan hal-hal yang penting misalnya agar kelas dapat berlangsung dengan baik artinya guru menerapkan prosedur dalam menjalankan kelasnya. Berikut ringkasannya
DISIPLIN: menitik beratkan pada bagaimana siswa berprilaku
PROSEDUR: menitik beratkan pada hal-hal yang mendukung pembelajaran dikelas dilakukan dengan baik.
DISIPLIN: Ada hukuman dan penghargaan atau imbalan
PROSEDUR: tidak mempunyai kedua-duanya
bener ga’ misalkan kita meletakkan anak di TK A krn perilakunya yg suka memukul kita bilang “nanti kalo masih suka mukul teman, sama bu guru dikembalikan ke TK A lho” itu ancaman bukan?
terus ngatasinya dengan apa kalo dikasi tau ga bisa. ato kalo salah disuruh istighfar 20 kali, boleh ga?ato disuruh berdiri di depan kelas, kalo TK boleh ga’?txs
Ya itu merupakan bentuk ancaman. Hati-hati dampak dari mengancam akan membuat anak menjadi kebal. Hindari juga hukuman yang akan mempermalukan siswa. Apabila anda belum membuat prosedur apa saja yang diperlukan kelas anda. silahkan memulai dengan peraturan dan konsekuensi.
Akan lebih efektif bila anak menunjukkan sikap perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di kelas maka berikan ia konsekuensi yang mendidik. Bila guru sejak awal telah membuat kesepakatan bersama dengan siswa tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kelas maka guru akan lebih mudah mengarahkan sikap perilaku siswa. Bangun suasana demokratis dengan memlibatkan siswa dalam pembuatan kesepakatan dan konsekuensi yang berlaku di dalam kelas. Jika dari awal siswa terlibat maka diharapkan siswa akan lebih menghargai peraturan yang dibuat dan mereka akan lebih faham akan peraturan kelas dan konsekuensinya. Jalin komunikasi dengan orang tua untuk mencari jalan keluar atas setiap permasalahan siswa, terlebih untuk sikap perilaku yang negatif. Jangan menunda untuk berkomunikasi dengan orang tua sebab guru tidak dapat membimbing siswa sendiri, peran orang tua di rumah juga sangat diperlukan.
Mei 19, 2008 pada 7:58 am
pak, saya mohon dikirimi bahan mengenai bahan pengembangan kurikulum. terutama mengenai sejarah pengembangan kurikulum di indonesia
Silahkan berkunjung ke blog dibawah ini
http://abinissa.wordpress.com/2007/11/20/sejarah-kurikulum-indonesia/