Peran guru dalam promosi sekolah

Pagi hari saat dalam perjalanan ke sekolah saya terkejut senang ketika mendengarkan iklan di Radio. Iklannya biasa saja hanya berupa kesaksian atau testimoni. Tapi yang istimewa iklan tersebut berasal dari sekolah saya sendiri. Kalau anda yang di luar Jakarta mungkin tidak bisa mendengar. Tetapi bila anda ada di Jakarta anda bisa mendengarnya lewat radio-radio yang target pendengarnya adalah wanita dan keluarga. Sekolah saya beriklan untuk acara promosi sekolah atau Open Day. Acara tersebut akan dilaksanakan hari Sabtu tanggal 2 Februari 2008.

Iklannya sangat singkat, durasi nya hanya 20 detik, namun naskah nya dibuat dengan baik sekali karena isinya kesaksian siswa mengenai apa yang dia dapat selama sekolah di Global Jaya. Kalau saya dengar dengan seksama maka hal yang menjadi titik berat dari yang dia dapat selama bersekolah adalah kemampuannya untuk menjadi pemikir kritis (critical thinker) dan pemecah masalah (problem solver) dan dua hal tersebut membuat dia percaya diri untuk bisa bersaing di masa depan.

Saya iseng-iseng mengadakan penyelidikan kecil-kecilan di dalam sekolah,apakah naskah atau apa yang siswa tersbut katakan di iklan tersebut merupakan buatan atau rekaan, ternyata tidak. Siswa tersebut dipilih karena sebelumnya dalam suatu forum ia dengan baik dan gamblang, tanpa naskah berbicara di depan calon orang tua mengenai perasaan nya bersekolah di sekolah global jaya sedari TK sampai dengan kelas 11.

Cara kita beriklan memasarkan sekolah kita punya banyak cara dan siasat. Cara di atas hanya salah satunya.

Ada hal lain yang lebih penting dibanding dengan anggaran promosi sekolah yang mahal, yaitu mempersiapkan guru sebagai tenaga ‘marketing ‘ sekolah.

Kenapa hal ini menjadi penting, karena terkadang orang tua siswa lebih suka menerima informasi dari “orang dalam” mengenai sebuah sekolah. Untuk kemudian informasi tersebut (baik atau buruk) akan menjadi promosi dari mulut ke mulut yang efeknya akan mengalahkan anggaran promosi sekolah yang berbudget mahal.

Jadi bayangkan apabila komponen sekolah tersebut yang justru berbicara negatif mengenai sekolah tersebut.

Selamat berpromosi.

 

About these ads

7 thoughts on “Peran guru dalam promosi sekolah

  1. I think i agree with you because in my opinion nowadays parents is more critical about the quality of educations their children get. Parents won’t be easily convinced just by advertisements, commercials, or even an open day. They realize that those are just “probably” a marketing trick to attract parents to enroll their children and worried that the school doesn’t provide their children with the kind of education like what they promise on their advertisements. So, that’s why “mouth-to-mouth” advertisements is important and a powerful tool because whether the experience is good or bad parents most likely share their experience with their friends. If prospectus parents hear many good experiences from their friends and colleagues they won’t be hesitate to put their children in and vise versa.

    Thanks Pak David,
    Nice to see you on my blog.
    Truly that I also become the person that not very easy to convinced, that’s why I always try to held small investigation to everything by questioning and asking (sounds like teacher who become inquirer ..eh).
    BTW, it is good to know what our marketing people told the world about our school, so at the same time, the teacher can tell the same story to everybody.

    thanks for visiting.
    keep up the good work.

  2. Sering kali apa yang diiklankan tidak sesuai dengan kenyataan. Fakta bahwa orang lebih percaya apa yang dilihat daripada apa yang didengar (eyes have it)merupakan indikasi kuat bahwa iklan atau promosi harus dilakukan dengan sejujur-jujurnya. Dan memang seharusnya promosi sebuah lembaga pendidikan harus benar-benar terpercaya karena menyangkut membangun manusia yang berkualitas. Dengan kata lain, iklan pendidikan jangan ibarat ‘ngejar setoran’ memenuhi bangku kosong, kalau seperti itu tidak jauh berbeda dengan iklan kecap atau sabun cuci. Dalam konteks pendidikan, setidaknya kita harus mempromosikan tiga hal sebagai produknya, yakni, karakter, keterampilan, dan pengetahuan. Namun, kerap orangtua memilih sekolah karena alasan yang lain seperti, prestise atau yang lainnya. Yang penting, lembaga pendidikan harus tetap mendasarkan produknya pada ketiga hal di atas.

    Prestise dari sebuah sekolah sebenarnya juga bisa dibangun dari karakter, keterampilan, dan pengetahuan.
    Thanks for your comment

  3. Sebenarnya para gurupun sudah melakukan promosi secara tidak langsung setiap ada orang tua murid yang bertanya tentang perkembangan anak mereka maupun program pembelajaran. Jawaban yang diberikan guru-guru merupakan suatu promosi GRATIS dan apabila jawaban tersebut memuaskan orang tua, maka orang tua yakin bahwa mereka telah menyekolahkan anak-anak mereka di tempat yang tepat. Bukan begitu Pak Agus?

    Halo semua guru di Year 4 Sekolah Global Jaya (Ibu Windy, Ibu Rina, Ibu Lia dan Pak David.. terima kasih sudah mau berkunjung ke blog saya.
    kabarnya anda semua membahas tulisan ini saat rapat team kalian ya.

    Saya setuju dengan anda semua bahwa guru selayaknya mau berperan sebagai ujung tombak dari promosi sekolah.

    Karena saya yakin kita semua bukan tipe guru yang mengatakan hal-hal yang ingin didengar saja oleh orang tua.
    Jika ada yang harus ditingkatkan dari seorang anak, kenapa tidak? kita sebagai guru minta orang tua membantu apa yang sudah kita lakukan disekolah di rumah.

    Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menjadikan setiap elemen dari komunitas sekolah (orang tua dalam hal ini) sebagai mitra.

    Salam hormat saya untuk semua guru di year 4

  4. Sepanjang saya pernah bekerja pada sebuah advertising agensi, strategi “testimoni” biasanya digunakan ketika ide kreatif iklan sudah mentok ! Testimoni sah-sah saja, tapi akan lebih mengena jika yg membrikan testi bukan orang dalam atau siswa di sekolah tersebut. Testi akan lebih ‘nendang’ jika yg ngomong kepala SMP atau lembaga lain yg ‘menggunakan’ produk output dari SD tersebut.
    Radio masih dipandang cukup efektif buat beriklan, meski sudah ada Televisi yang gak cuman bisa dengerin suaranya tapi juga bisa liat figurnya. Namun ada kelebihan radio yang gak dimiliki televisi… salah satunya adalah “cara menikmatinya”.
    Kapan-kapan kita bisa diskusi lebih panjang tentang bagaimana cara memasarkan sekolah.
    Tengkiyu… Goodluck !

    thanks mas Budi
    terima kasih sudah berkunjung
    Tapi mas Budi, kalau saja anda hadir di presentasi yang menghadirkan siswa tersebut anda bisa lihat semua orang berkaca-kaca dan terharu.
    Tapi memang ada hal yang berbeda ketika suara siswa tersebut direkam.
    Ajakan diskusi nya saya terima ya..

    salam kenal

  5. Sekalipun pemerintah dan sebagaian besar sekolah di tingkat SMP dan SMA sudah mengupayakan komputer dan internet,namum dari segi para tenaga pengajar atau guru masih banyak yang enggan belajar komputer apalagi menggunakannya sebagai media belajar. Oleh karena itu perlu sekali bagi pimpinan sekolah untuk terus mendorong para guru agar secara sukarela belajar komputer dan menggunakannya sebagai media pembelajaran.

    Pak Marsudi yang baik.
    uapaya mengintegrasikan butuh keberanian untuk mencoba.
    Semoga semua sekolah yang sudah dilengkapi dengan TIK mau mencoba mengintegrasikan lewat hal yang paling sederhana dulu

    Thanks
    sudah mampir

  6. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  7. Dalam mempromosikan sekolah prmosi yang terbaik yaitu dari mulut ke mulut yang diutarakan oleh ortu murid melalui pembuktian prestasi sekolah itu sendiri. Membangun sekolah dengan manajemen berbasis sekolah dengan kepala sekolah sebagai manajer adalah salah satunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s