Refleksi setahun menjadi kepala sekolah

BrqA-UkCQAAWvnBMenjadi kepala sekolah merupakan sebuah tantangan yang tidak semua guru inginkan. Banyak guru yang lebih merasa nyaman menjadi guru dengan segala pertimbangannya. Saya baru berniat mengarahkan jenjang karir saya sebagai kepala sekolah ketika usia karir saya ada di angka sepuluh tahun. Setelah saya pikir bekal saya cukup sebagai seorang guru. Saya punya moto dalam berkarir sebagai pendidik adalah ‘learning and sharing’ atau belajar dan berbagi, yang saya bayangkan jika bisa berkarier sebagai kepala sekolah aspek ‘sharing’ atau berbagi bisa semakin mengemuka karena ada guru yang langsung berada dibawah kendali saya sebagai kepala sekolah. Ternyata sebagai kepala sekolah ada hal lagi yang mesti ditambahkan yaitu aspek kepemimpinan, jadi setelah satu tahun menjabat sebagai kepala sekolah saya tambahkan satu lagi kata ‘leading’ menjadi ‘leading, learning and sharing’ atau memimpin, belajar dan berbagi. Dalam memimpin diperlukan sebuah prioritas, dengan pertimbangan jika semua yang menjadi prioritas sudah diselesaikan maka energy bisa digunakan untuk yang lain dalam kaitannya dengan inovasi yang diperlukan untuk mengembangkan sebuah sekolah yang sehat dan efektif. Saya memilih menegakkan sistem dahulu di tahun pertama. Jika anda ingin tahu apa rasanya menjadi guru kemudian ada di posisi kepala sekolah yang memimpin dan membawahi sekian banyak guru maka seperti inilah refleksi saya, semoga berguna bagi anda yang membaca.

Pentingnya mempunyai action plan

Bt2HPuQIQAEObvpSaat pertama kali mengenali ‘medan’ seorang guru yang menjadi kepala sekolah ada ‘diatas’ dalam arti yang kiasan dan sebenarnya. Diatas dalam arti kiasan ia mesti memandang semua hal tidak dari sudut pandang yang satu arah dengan demikian ia mesti punya cara pandang yang beragam terhadap satu masalah. Dalam arti sebenarnya seorang kepala sekolah mesti siap dicurhati apa saja oleh orang tua siswa, pemilik sekolah dan guru mengenai apa saja yang menjadi kepedulian dan masalah yang mereka miliki terhadap sekolah yang saya pimpin.

Salah satu tugas berat seorang pemimpin adalah melakukan kontak yang sifatnya bermakna atau ‘engagement’ pada tiap elemen komunitas di sekolah, dari guru sampai penjaga kantin, dari wakil kepala sekolah sampai supir jemputan, dan dari orang tua siswa sampai petugas keamanan. Semuanya punya masukan yang berharga demi kemajuan sekolah. Saya mencoba menampung dan menyaring semuanya dan membuatnya jadi action plan.

Sebuah action plan sangat penting agar semua keluhan dan masalah serta tantangan ke depan sebagai pemimpin sekolah tidak menuntut penyelesaian dari satu orang saja yaitu kepala sekolah. Sebuah action plan memungkinkan pembagian tugas dan sekaligus bernuansa solutif dengan budget atau anggaran yang terukur sehingga kepala sekolah jadi tahu apa yang ia mesti kerjakan dan kenapa penting masalah tersebut untuk dikerjakan, termasuk soal pembiayaannya dan siapa yang bisa didelegasikan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebuah action plan bisa juga menjadi ukuran dari keberhasilan seorang kepala sekolah, serta guru dalam penilaian di akhir tahun ajaran. Dengan demikian seorang kepala sekolah tidak lagi dinilai berdasarkan omongan orang lain atau perasaan orang lain yang bekerja dengannya karena sifatnya sangat subyektif namun dinilai dengan ukuran-ukuran yang jelas diatas kertas yang bahkan sudah dibuat setahun sebelumnya.

Pentingnya mendelegasikan tugas

Kemampuan mendelegasikan tugas sangat membantu seorang pemimpin. Tanpa kemampuan mendelegasikan tugas seorang pemimpin hanya akan menjadikan orang yang dipimpinnya sebagai penonton dan akan gagal menciptakan pemimpin yang baru. Saya memulainya dengan membuat kembali struktur organisasi di sekolah tempat saya memimpin dan saat yang sama mengangkat orang yang cocok untuk menempati jabatan, saya menyebutnya sebagai koordinator.

Proses ini punya banyak konsekuensi misalnya mereka yang menjabat mesti juga mendapatkan uang tunjangan selain gaji dan yang paling penting job des yang jelas sehingga mereka tahu batasan tugas serta hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Job description yang jelas saya upload di portal yang bisa diakses oleh siapa saja yang ada di sekolah. Pemuatan job description di portal bermakna bahwa setiap orang diawasi oleh orang lainnya dan semua jabatan mesti siap untuk menunaikan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaannya. Hal yang menarik adalah orang yang mengawasi tidak hanya atasan namun juga sesama rekan. Saat memilih siapa orang yang cocok pun tidak boleh asal pilih, saya memberlakukan system lelang terbuka artinya siapa saja yang masuk criteria boleh mendaftar dan bisa menempati posisi. Tentunya didahului dengan seleksi surat lamaran dan wawancara. Semuanya berlangsung internal di sekolah. Kepala sekolah boleh saja mempunyai kandidat kuat yang diinginkan dan system lelang ini akan membuktikan orang yang punya potensi saja (lama ataupun baru) yang akan menempati posisi.

Dengan system ini diharapkan kepala sekolah akan punya individu yang dengan sigap membantunya mewujudkan apa yang menjadi visi misi dari sekolah. Mengapa saya menyegerakan untuk menciptakan middle management? Hal ini tidak lain tidak bukan karena sebuah sekolah perlu menciptakan pemimpin-pemimpin. Kepala sekolah mungkin dipilih karena ia mampu dan berpengalaman namun jika semua hal ia kerjakan sendiri maka sekolah akan bertumpu pada satu orang dan hanya menempatkan satu orang untuk berpikir dan tidak memaksimalkan potensi yang ada di sekolah untuk bisa berprestasi, urun rembuk dan menunjukkan potensi terbaiknya.

Pentingnya kemitraan antara kepala sekolah, dinas pendidikan, orang tua siswa, pemilik sekolah dan guru

Saya sengaja memilih kata kemitraan dengan menyitir peribahasa dari Afrika ‘It takes a village to educate a child’. Sebuah peribahasa yang berarti sangat dalam karena bermakna kemitraan yang penting untuk dijalankan antara rumah dan sekolah. Di sekolah swasta faktor pemilik sekolah sangatlah penting, karena kemitraan kepala sekolah dengan pemilik sekolah akan membawa kemajuan bersama. Lembaga sekolah seperti yang sudah menjadi peraturan pemerintah lewat dinas pendidikan yang mengatakan hanya boleh dikelola oleh yayasan, yang berarti mesti siap mengesampingkan semangat mencari keuntungan di awal-awal pengelolaan sekolah, jika pun ada akan kembali lagi pada sekolah tersebut dalam bentuk pelayanan yang semakin hari semakin prima kepada siswanya, dalam bentuk fasilitas dan tenaga pengajar yang professional dan mendidik dengan hati.

Sebenarnya gampang jika sekolah ingin segera raih keuntungan dalam waktu cepat untuk tujuan yang positif seperti kalimat saya sebelumnya, sekolah cukup jadi lembaga yang amanah dan terampil serta profesional dalam berkomunikasi serta mau mendengar maka orang tua siswa akan puas dengan layanan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Menariknya tantangan terbesar saya sebagai kepala sekolah adalah anggapan bahwa saya terlalu membela pemilik sekolah oleh orang tua siswa, sebaliknya oleh pemilik sekolah saya dianggap terlalu membela orang tua siswa.

Selama berkarir sebagai guru saya mengalami berada di sekolah yang cukup melalui masa penuh complain orang tua siswa, di awal 7 tahun pertama umur sekolah, di tahun berikutnya ketika orang tua siswa sudah percaya maka antrian untuk masuk setiap tahunnya sudah mengular. Itu terjadi karena sekolah mau mendengar, belajar dari kegagalan, mau berinvestasi dalam hal pelayanan, mau memberi lebih dan melayani setiap masukan orang tua siswa dengan sabar dan mendahulukan solusi. Intinya sekolah selalu bersemangat jika diminta untuk berubah, dengan tetap berusaha meyakinkan semua aktor perubahan tentu, utamanya adalah guru sebagai ujung tombak layanan sekolah kepada murid-murid.

Orang tua siswa yang puas akan layanan sekolah akan lebih banyak diam dan bersedia untuk dimintakan bantuan apa saja. Namun lain ceritanya jika orang tua siswa tidak merasa puas. Hal yang saya alami selama setahun saya menjadi kepala sekolah adalah ketidak puasan muncul dari rasa tidak percaya dan erat hubungannya dengan apa yang sudah dibayarkan dengan hasil atau mutu yang mereka terima sebagai orang tua siswa yang sudah mempercayakan pendidikan putra putrinya. Memang hal tersebut bisa saja terjadi oleh kasus yang terjadi sebelum saya menjabat, namun menjadi tugas saya untuk menyelesaikan dan memungut lagi rasa percaya orang tua siswa satu persatu, baik dari orang tua siswa yang lama dan yang baru. Untuk itu di tahun berikutnya saya sudah siap dengan memulai inisiatif pembentukan lembaga yang bernama Dewan Sekolah atau ‘school board’. Dengan adanya wadah tadi kepala sekolah terhindar dari mengurusi hal-hal kecil yang menyebabkan energy habis terhisap untuk hal-hal diluar urusan inovasi untuk menjadi sekolah yang efektif

Pentingnya aspek komunikasi dengan menggunakan teknologi

Komunikasi di sekolah yang efektif melibatkan niat baik dari semua pihak. Niat baik berarti berprasangka baik. Sebuah prasangka baik apalagi yang timbul di level pimpinan akan berdampak pada kepercayaan bawahan bahwa ia dipercaya dan bukan dicurigai. Sebuah sekolah adalah lembaga pendidikan, yang acuannya adalah hal-hal yang tidak akan dilakukan oleh seorang guru pada muridnya juga tidak akan dilakukan oleh kepala sekolah kepada guru-gurunya.

Selama setahun menjabat saya merasakan penting sekali memberikan rasa percaya lewat komunikasi yang efektif yang tercermin lewat atmosfir dunia kerja yang positif. Alat komunikasi seperti email internal serta portal lewat internet saya berusaha wujudkan dengan bantuan yayasan untuk menjadikan aspek komunikasi ini bisa menjadi tulang punggung atmosfir sekolah yang positif. Email internal berfungsi untuk menegakkan aspek komunikasi karena email bisa dijadikan bukti bahwa sebuah komunikasi telah terjadi (hal ini dikarenakan semuanya tercatat waktunya). Email juga akan membuat unsur ‘ewuh pakewuh’ atau perasaan tidak enak untuk menyampaikan sesuatu menjadi hilang dikarenakan sifatnya yang pribadi dan tidak semua orang bisa membaca jika email tidak ditujukan padanya. Salah satu kelemahan informasi lisan adalah orang bisa lupa dan terlewat, email yang dibuka dengan rutin akan membuat komunikasi menjadi lancar dan segala urusan menjadi lebih mudah.

Di tahun ajaran ini orang tua siswa akan diberikan alamat email guru yang mengajar anaknya. Sehingga bisa berkomunikasi dengan lancar dan professional mengenai perkembangan anaknya. Sekolah juga akan mengirimkan berita atau newsletter sekolah dalam format PDF kepada orang tua siswa, sehingga tidak perlu lagi mencetak kertas. Sementara portal berfungsi sebagai ‘knowledge management’ yang didalamnya semua guru akan diminta untuk menyimpan RPP atau lesson plan setiap minggunya. Dengan demikian mudah bagi sekolah menyiapkan guru dan materi pengganti jika ada guru yang tidak masuk karena semua materi sudah diupload oleh guru yang bersangkutan di portal.

Bayangkan jika kebiasaan yang baik ini bisa dilakukan dalam satu tahun ajaran, guru akan punya history of teaching yang berarti di tahun berikutnya ia cukup mengulang dan melakukan modifikasi cara mengajarnya dari yang pernah ia lakukan sebelumnya. Kepala sekolah pun mudah melakukan control kepada guru, tanpa harus meminta ia cukup mengecek ke portal apakah guru sudah mengupload dokumen pembelajarannya. Portal juga bisa dibuat untuk menyimpan notulen rapat sampai hasil presentasi dari konferensi atau seminar yang guru hadiri. Sehingga setiap orang selalu punya cara untuk melihat hasil rapat untuk kemudian dijadikan bahan informasi pengambilan keputusan selanjutnya. Untuk itu rasa terima kasih saya yang besar pada staff IT di sekolah saya yaitu Rizal yang sudah banyak membantu mengorganisasikan semua yang berkenaan dengan IT . Dengan adanya sistem knowledge management ini maka setiap akhir tahun ajaran bukan hal yang merepotkan lagi, karena semua terdokumentasi dan jika ada guru yang keluar pun semua peninggalan intelektualitasnya sudah ada di portal dan mudah bagi guru baru untuk menyesuaikan diri.

Setahun ajaran yang menantang

Sebagai penutup tulisan ini jika seorang pemimpin sekolah melaksanakan tugasnya dengan baik, ternyata setahun ajaran itu berlangsung tidak terlalu lama. Selama setahun yang saya kedepankan adalah membangun sistem karena ketika sistem sudah terbangun sekolah tidak perlu lagi pusing mencari biaya untuk membeli pasir dan semen alias membangun, orang tua yang sudah percaya akan ikut membiayai lewat berbondong-bondongnya mereka merekomendasikan agar sanak saudara handai taulan menyekolahkan putra putrinya di sekolah kita. Jadi mohon doanya untuk tahun saya yang kedua sebagai ‘lead learner’ alias pemimpinnya para pembelajar

Tips menjadi sekolah swasta yang dipercaya oleh orang tua siswa.

BrAwjKjCcAIA32XBpz6Po_CQAEM5qY

Setiap sekolah punya ‘penggemarnya’ sendiri-sendiri. Sekolah negeri digemari oleh tipe orang tua yang sangat senang memanfaatkan fasilitas negara (walaupun ia mampu) atau yang terpaksa mesti (karena keterbatasan dana) memanfaatkan sekolah gratis di sekolah negeri. Sementara sekolah swasta diminati oleh orang tua siswa yang merasa mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang meminta bayaran SPP yang lumayan atau sebaliknya diminati oleh ketidak inginan anaknya masuk ke sekolah negeri karena satu dan lain hal.

Tulisan ini akan membahas mengenai sekolah swasta yang SPP dan uang pangkalnya cukup lumayan. Tipe sekolah swasta ini uniknya diburu oleh orang tua siswa. Mendekati tahun ajaran kapasitas kelasnya cepat penuh dan diminati oleh para orang tua yang menginginkan mutu pendidikan terbaik bagi anaknya. Sementara ada sekolah swasta juga yang susah sekali mendapat murid walau sudah sibuk berpromosi lama sejak sebelum tahun ajaran baru dimulai. Padahal sarana fisiknya bagus, guru-gurunya senior dan pengalaman serta biayanya bersaing dengan sekolah lain.

Mengapa ada sekolah yang begitu banjir peminat? Ini sebabnya

  • Sekolah mampu menjaga kepercayaan orang tua siswa terutama dari aspek keuangan. Aspek keuangan adalah hal yang paling penting karena orang tua mengukur lari kemana uang pangkal atau uang SPP yang dibayarkan. Apakah kembali pada anaknya dalam bentuk pelayanan yang terbaik yang mengutamakan siswa atau berlalu begitu-begitu saja. Orang tua siswa akan mengukur seberapa sekolah sudah menjadi amanah dengan kemampuan analisa masing-masing. Jika sekolah gagal mencapai apa yang disebut analisa kasar terhadap seberapa yang dibayarkan dan yang kembali kepada siswa dalam bentuk pelayanan, maka sekolah mesti bersiap panen complain dari orang tua siswa. Indikator yang bisa dilihat adalah pelayanan fisik dan non fisik yang terus ditingkatkan. Sekolah memperbaharui fasilitas fisiknya di setiap libur sekolah dan mau mendengar jika ada masukan orang tua siswa secara langsung atau lewat lembaga yang sudah ditunjuk. Soal keuangan ini sangat sensitif karena banyak pemilik sekolah yang ingin segera cepat impas (break even point) dan ingin segera untung, padahal prinsipnya sederhana saja jika 10 tahun pertama sekolah itu amanah dan dapat dipercaya maka orang tua siswa akan berduyun-duyun datang menyekolahkan anaknya. Bahkan sekolah sampai harus menolak siswa.
  • Sekolah punya pengelolaan komunikasi yang baik kepada orang tua siswa. Sekolah tampil sebagai lembaga yang berwibawa. Ada lembaga dewan sekolah, ada lembaga persatuan orang tua murid dan guru, ada perwakilan komite setiap kelas yang siap menampung apa saja yang menjadi kepedulian orang tua siswa. Sekolah berkomunikasi dengan jalur-jalur resmi yang baik, jelas dan terukur secara online maupun offline, secara tertulis maupun secara lisan. Orang tua siswa tidak dibuat bingung karena garis komunikasi sekolah jelas dan menggunakan bahasa yang dipertimbangkan masak-masak sebelum disampaikan pada siswa. Sekolah yang bertipe seprti ini akan terhindar dari konflik yang tidak perlu. Konflik yang saya maksud adalah konflik orang tua yang vokal menyuarakan keluhan karena saat yang sama orang tua dididik untuk mau menyalurkan pendapatnya lewat organisasi resmi dan bersedia menerima apapun hal yang sudah menjadi keputusan, sepanjang keputusannya diputuskan lewat lembaga resmi yang dibentuk oleh sekolah.
  • Sekolah memanusiakan guru-gurunya. Banyak pemilik sekolah swasta yang berasal dari bidang bisnis lain yang kemudian tergerak hatinya untuk membuat sekolah. Para individu pemilik sekolah punya gaya masing-masing dalam mengelola sumber daya manusianya, ada yang semata menganggap guru-guru yang mengajar di sekolahnya sebagai buruh yang mesti bekerja secara fisik dan kasat mata. Tipe pemilik seperti ini biasanya tegas dan keras saat menghukum (bahkan dengan potongan gaji) bagi setiap kesalahan dan pada saat yang sama menginginkan guru bekerja keras dengan sempurna dan sebaik-baiknya. Ada juga tipe pemilik sekolah yang menganggap guru dan memanusiakannya sebagai mitra memajukan sekolah dan bukan sekedar alat pencari keuntungan. Nuansa pembinaan kepada guru pun bernuansa ‘coaching’ yang membesarkan potensi dan menghargai kesalahan sebagai upaya untuk belajar untuk bisa semakin baik di masa depan. Guru dilatih agar mampu bekerja dengan professional dan dihargai secara financial (tergantung kemampuan sekolah). Saat yang sama diberikan pengarahan jika lakukan kesalahan. Jika orang tua siswa merasa bahwa guru anaknya dimanusiakan maka ia akan senang hati menyekolahkan anaknya disitu dan bahkan merekomendasikannya pada orang lain (kerabat dan saudara)
  • Sekolah pandai mengatur penyelenggaraan aspek akademis dan non akademis selama satu tahun ajaran. Orang tua siswa akan berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya ditempat yang suasana pembelajarannya masih sama seperti ia sekolah dulu (banyak hapalan atau guru yang otoriter) atau bahkan sebaliknya sekolah akan begitu saja mengiyakan keinginan orang tua yang masih ‘kolot’ cara pandangnya, misalnya mengukur segala sesuatu dari nilai angka. Seperti yang sudah saya tulis di awal, saatnya sekolah percaya diri bahwa visi misi sekolahnya lah yang penting untuk direalisasikan dengan cara yang demokratis sekolah menampung juga saran serta ide agar dalam praktek mewujudkan visi misi, orang tua tetap merasa bahwa sekolah tempat menyekolahkan anaknya adalah sekolah yang mempersiapkan anak-anaknya untuk masa depan.

Jika semua faktor diatas sudah dilaksanakan oleh sebuah sekolah swasta dijamin sekolah tersebut akan lekat di benak orang tua siswa sebagai sekolah yang bagus mutunya dan dipercaya. Lupakan dulu anggaran promosi yang besar, orang tua siswa lebih suka mendengarkan rekomendasi antar orang tua siswa (dari mulut ke mulut) apalagi sekarang jaman media sosial, segala kebaikan dan keburukan sekolah anda akan menyebar dengan cepat dan dahsyat efeknya.

Jadi selamat menjadi sekolah yang mau belajar dan cepat beradaptasi terhadap kebutuhan orang tua siswa.

Rapat yang efektif cermin budaya sekolah yang sehat

eff2Gambar dari: :

Daur kerja guru masa kini; mengajar, merencanakan, rapat dan menilai pekerjaan siswa

Mengapa rapat yang efektif mesti terjadi di sekolah kita, berikut ini sebabnya

  1. Rapat bisa jadi cara efektif menyatukan pendapat dan penyebarluasan informasi
  2. Rapat yang efektif membuat guru semakin profesional saat menjalankan tugas karena ia jadi pribadi yang update informasi dan mantap dalam melaksanakan tugasnya

Tugas kepala sekolah

  1. Dalam setiap rapat tugas kepala sekolah mengingatkan yg hadir utk mengembalikan semua perdebatan pada visi dan misi sekolah
  2. kepsek hanya adakan rapat kalau temanya soal ‘belajar mengajar’ jika temanya sudah hanya semata pemberitahuan, sampaikan lewat email, bbm dll
  3. kepsek mesti menghindari menunjuk seseorang yg punya ide saat rapat sebagai satu-satunya pelaksana dari ide yg ia berikan
  4. Kepsek mesti berusaha menghilangkan budaya malu bertanya dan memberi ide saat rapat

 

Pentingnya dewan sekolah (School Board) di sekolah swasta

SchoolBoard2

Ciri-ciri sekolah swasta yang makin dipercaya oleh masyarakat adalah minat masyarakat terhadap sekolah yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan jumlah siswa dan guru yang terus meningkat.

Pastinya pertumbuhan yang cepat tersebut memerlukan ekspansi proporsional alat bantu pengajaran dan fasilitas, program akademik yang mendukung visi dan misi sekolah , peningkatan jumlah guru yang berkualitas, profesional dan perencanaan manajemen sekolah partisipatif yang melibatkan seluruh stake holder sekolah (Yayasan, pimpinan sekolah, guru, orang tua siswa dan masyarakat)

Sebuah sekolah swasta bisa tetap bertumbuh jika ada kerjasama yang baik antara Yayasan sebagai pendiri dan pemilik sekolah, para petinggi, guru dan staf, orang tua sebagai mitra dalam mendidik, ahli pendidikan dan nara sumber lainnya. Kesemuanya memberikan pondasi yang kuat bagi sekolah dalam terus berkembang.
Kenapa Dewan Sekolah itu penting?
• Untuk memberikan lingkungan yang baik dalam perkembangan sekolah sebagai institusi
• mendapatkan alternatif sudut pandang yang berbeda
• merekam kesan dan harapan orang tua siswa melalui pertemuan yang dinaungi oleh suatu kelembagaan.
• Agar perasaan kekeluargaan, rasa memiliki, komitmen untuk sama-sama membesarkan sekolah terus menerus dipupuk dan dibina dalam nuansa saling percaya
• Memberikan motivasi bagi orang tua siswa melalu perwakilannya untuk berpartisipasi dan bekerja sama dalam menemukan solusi terbaik untuk masalah sekarang dan dengan fokus pada kelangsungan hidup dilandasi visi dan misi sekolah.
Berdasarkan pada kebutuhan di atas akan sangat baik jika sekolah berinisiatif untuk mendirikan sebuah Dewan Sekolah atau School Board (SB) sebagai badan yang akan meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dari semua pihak (stake holder).
SB terdiri dari wakil-wakil dari orang tua sekolah, guru, dan Yayasan dengan detail sebagai berikut: 2 perwakilan yayasan, 5 orang perwakilan orang tua siswa, 2 kepala sekolah, 1 orang Admin dan 1 orang guru senior. Peran mereka berfokus terutama pada hal-hal makro, strategis atau yang bersifat sensitif. School Board (SB) berbeda dengan PErsatuan Orang tua Murid dan Guru (POMG) yang nantinya setelah lembaga School Board ada akan aktif dibantu dan bekerja sama erat dalam hal-hal teknis dan operasional.

Pada intinya pendirian SB dikarenakan sekolah menyadari konsep dasar di mana Yayasan pemilik dan pengelola sekolah percaya bahwa keberhasilan dalam pendidikan adalah tanggung jawab bersama dan usaha antara Yayasan, manajemen Sekolah , orang tua siswa dan masyarakat.

8 Karakteristik Kepala Sekolah Hebat

school-leadersBerikut adalah illustrasi visual yang sangat baik yang dibuat oleh Sean Junkins (editor SeansDesk), beliau menampilkan beberapa karakteristik dari pemimpin sekolah yang hebat . Sean memfokuskan pada 8 karakteristik utama yang dimiliki oleh pemimpin sekolah, silahkan mencermati:

1 – Visi
Kepala sekolah yang hebat adalah seseorang yang visioner dengan insting yang jelas tentang tujuan dan nilai-nilai yang mesti ditempuh oleh organisasinya. Mereka memiliki kemampuan untuk merumuskan dan membentuk masa depan, daripada harus dibentuk oleh peristiwa, kejadian atau komplain-komplain.

2 – Keberanian
Kepala sekolah yang hebat memiliki tekad, kemauan, dan kesabaran untuk melihat hal-hal yang dilalui dalam melakukan praktek terbaik saat memimpin. Mereka bersedia mengambil risiko dan tetap teguh dalam menghadapi tantangan.

3 – Gairah
Kepala sekolah yang hebat bergairah tentang proses belajar dan mengajar, menunjukkan komitmen yang besar untuk anak-anak atau siswa, dan mengambil minat aktif dalam terhadap pekerjaan siswa dan staf.

4 – Cerdas
Kepala sekolah yang hebat adalah senang membangun tim. Mereka memahami pentingnya hubungan. Mereka memberdayakan staf dan siswa mereka sambil terus menunjukkan empati untuk semua.

5 –Bijaksana
Kepala sekolah yang hebat membuat keputusan yang bijaksana. Mereka tidak bertindak sendiri, mereka melibatkan seluruh komunitas sekolah untuk membuat siswa siap menghadapi tantangan masa depan.

6 – Tenang dan Optimis
Kepala sekolah yang hebat punya sifat yang optimis. Mereka tetap energik dan positif. Mereka tetap tenang dalam menghadapi krisis dan memiliki strategi untuk menenangkan diri saat badai menerpa.

7 – Persuasi
Kepala sekolah yang hebat adalah komunikator dan storyteller. Mereka adalah pintar membujuk dan seorang pendengar yang baik. Mereka adalah motivator yang membuat orang mau untuk melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan dan berbeda dalam hidupnya.

8 – Ingin tahu
Kepala sekolah yang hebat selalu mencari ide-ide yang baik. Mereka adalah mudah berjejaring baik dengan siapa saja dan selalu mau belajar tren terbaru dalam kehidupan profesionalnya

Sumber: http://www.educatorstechnology.com/2014/06/8-characteristics-of-great-school.html

Belajar mengenai konsep mengajar dengan hati dari para guru peserta program SM3T (Tertinggal terdepan dan terluar)

Gambar

Gambar

Tahun ini adalah tahun ke empat belas saya berkarir sebagai pendidik. Sebuah angka yang cukup panjang sebagai seorang profesional dalam bidang pendidikan. Di sela kesibukan saya mengajar saya melakukan praktek yang disebut sebagai Plan, do and reflect (merencanakan, melakukan dan berefleksi atas praktek yang sudah dijalankan). Saya melakukan refleksi dengan blog (www.gurukreatif.wordpress.com) . Blog membuat saya bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak pendidik dari seluruh Indonesia di dunia maya. Mereka adalah saudara saya sesama guru yang ada di seluruh Indonesia yang berkat bantuan google sampailah di blog saya dan bisa membaca tulisan-tulisan saya . Banyak dari rekan pendidik itu yang berasal dari luar kota besar atau daerah terpencil yang mungkin hanya bertemu internet sekali-sekali . Di blog, saya banyak menulis dan memberikan motivasi serta strategi pembelajaran, sering saya ditanya oleh pembaca mengenai keadaan yang mereka alami. Kira-kira begini pertanyaan mereka, “bagaimana melaksanakan tips kreatif yang bapak katakan di daerah yang tidak ada listrik?”. Atau “bagaimana melakukan strategi pembelajaran di daerah yang siswa SMP saja, belum pandai membaca.” Sampai “bagaimana membangkitkan motivasi anak dan orang tuanya agar sadar artinya pendidikan?”

Pertanyaan di atas terus terang membuat saya bermimpi bisa hadir suatu saat di tengah situasi tersebut, bahkan bisa berinteraksi dengan guru guru yang mengajar di daerah yang menantang dari segi kondisi sosial dan geografis. Maklum saya ini guru yang mengajar di kota besar, dimana semua ada dan tersedia. Walaupun banyak yang bilang bahwa masalah pendidikan dimana-mana sama saja, tidak lebih tidak kurang berkisar antara mutu guru atau motivasi siswa. Namun tetap keinginan saya untuk bisa berinteraksi dengan sesama rekan pengajar di daerah tertinggal makin lama makin menguat. Semuanya demi pengalaman riil lapangan yang membuat saya semakin bisa berempati dan merasakan apa yang guru-guru tersebut rasakan. Sehingga pada gilirannya semua yang saya tulis di blog semakin bisa bermanfaat untuk sesama pendidik di seluruh Indonesia yang saya cintai

Sampai di awal bulan Juni 2014 saya mendapat undangan dari Dikti (Dirjen Pendidikan Tinggi) untuk datang ke Malinau sebuah kabupaten di propinsi Kalimantan Utara yang baru lahir dan siap diresmikan. Undangan tersebut untuk ikut serta dalam Publikasi Dikti yang bertujuan merekam perjalanan program ini sejak pertama kami digulirkan dari 2011. Dari Aceh sampai Papua, Dikti dalam rangka merekam jejak program ini mengirim tim-tim kecil yang berangkat secara bersamaan. Tim kecilnya terdiri dari penulis, photographer dan utusan dari Dikti. Bersama saya menuju Malinau ada Yopi Pieter Gonzales seorang photographer dan Lalang Laksono seorang pegawai di Dikti.

Melalui perjalanan udara Jakarta menuju Tarakan yang dilanjutkan dengan perjalanan air menuju Malinau sampailah saya di desa Paking. Jangan bayangkan jarak desa Paking ke Malinau hanya berjarak sepelemparan batu. Untuk menuju Desa Paking saya mesti memilih jalan darat yang membelah bukit atau jalan sungai, kedunya sama-sama memakan waktu. Di Malinau kedatangan saya disambut oleh guru yang tergabung dalam program SM3T yang mengajar di Malinau dan sekitarnya. Mereka adalah Reka, Jamil, Ajie dan Agus , mereka pula yang mengantar saya sampai ke Desa Paking untuk bertemu dengan Hafida, Wulan, Ninda dan Didit, mereka semua ditempatkan di SMP Paking Mentarang. Saat pembekalan sebelum berangkat di Jakarta saya banyak mendapatkan informasi mengenai bagaiamana pentingnya program ini bagi keberlangsungan pendidikan di daerah yang tertinggal. Saya pun diberi keterangan mengenai siapa saja individu yang lulus seleksi untuk mengikuti program ini. Saat saya bertemu langsung dengan para peserta SM3T secara langsung, terasalah aura pengabdian yang mereka miliki.

Anak-anak muda yang saya sebutkan diatas tadi sangat trengginas dan penuh ide serta banyak inovasi yang sudah mereka lakukan untuk daerah penempatan masing-masing. Saya saja yang sudah melalui belasan tahun berkarir sebagai pendidik perlu banyak belajar kembali soal semangat dan keinginan untuk berbagi kepada sesama seperti yang sudah mereka tunjukkan. Setiap zaman memang berbeda tantangannya, namun di daerah penempatan mereka masing-masing mereka ikhlas dan rela untuk menghadapi tantangan yang itu-itu saja sejak negara ini merdeka. Kurangnya infrastruktur, pembangunan yang tidak merata, mental masyarakat yang masih belum menempatkan pendidikan sebagai prioritas sampai mutu guru, semua mesti mereka hadapi secara bersamaan.

Semua sarjana mengajar yang ada di desa Paking Malinau memang berasal dari Pulau Jawa. Sekali lagi satu hal besar lagi yang dihadapi oleh mereka di daerah penempatan yaitu masalah perbedaan karakter masyarakat dan adat istiadat. Saat saya kunjungi hampir genap setahun mereka ditempatkan dan saya melihat usaha yang keras dari semua sarjana tersebut untuk menempatkan diri dan membuat semua orang dan lapisan sebagai teman atau mitra mereka dalam menaikkan standar pendidikan agar menjadi lebih baik. Sebagai anak muda jika kurang sabar bisa saja mereka akan jadi bagian dari masalah dan bukan jadi bagian dari solusi, untuk itulah rasa sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan rasa bahwa semua orang, sekecil apapun mesti berkontribusi bagi kemajuan bangsa lah yang membuat mereka kuat dan sabar dalam menhadapi segala tantangan alam, adat istiadat dan sosial budaya.

Tinggal dan mengalami pengalaman bersama para guru yang mengajar di desa Paking membuat saya bisa mengambil kesimpulan beberapa hal.

1. Guru- guru muda yang tergabung dalam program SM3T benar benar terjun langsung membantu ketiadaan guru. Saat yang sama mereka masuk kedalam struktur sosial desa yang berarti mesti siap berperan sebagai intelektual yang dimintakan pendapat atau akan selalu dilihat perilakunya sebagai role model oleh masyarakat di desa yang mereka tempati.Hal ini sangat tidak mudah mengingat mereka pasti tidak sempurna juga sebagai individu namun karena persiapan yang cukup sebelum diberangkatkan, saya lihat dan amati mereka cukup kuat bertahan.

2. Jika ada guru dari program SM3T yang ditempatkan di kota yang hampir mirip seperti di pulau Jawa (dalam arti fasilitasnya agak lengkap) mereka berperan dalam menularkan teknik pembelajaran, profesionalisme guru atau pedagogi dalam mendidik dan mengelola murid-murid kepada sesama guru. Saya bahagia sekali ketika mendengar bahwa mereka memberi contoh dari hal yang kecil, misalnya dengan masuk tepat waktu ke kelas dan berada di kelas selama jam pelajaran dan tidak memberi tugas kepada murid lalu duduk duduk di ruang guru. Sebuah kenyataan yang menurut saya masih banyak berlangsung dalam praktek pendidikan di Indonesia.

3. Peserta program SM3T sangat tertantang dengan kondisi sosial masyarakat yang tidak punya konsep belajar secara formal. Bahkan guru-guru setempat nya pun belum punya konsep jelas mengenai dalam memaknai konsep ‘sekolah’ formal. Terbukti dengan banyak anak-anak yang sudah cukup usianya namun belum bisa membaca. Sebuah hal yang pastinya bagi anak anak muda peserta SM3T yang masih sangat energik dan idealis akan menimbulkan pertanyaan dan tantangan. Ada banyak inovasi yang sudah saya dengar dalam kunjungan yang singkat saya yaitu usaha para sarjana mengajar untuk melakukan pendekatan pada orang tua siswa dan ikut serta dalam semua aktivitas kampung dan desa yang tujuannya tidak lain tidak bukan untuk membuat kedekatan emosional sehingga gampang mengajak anak-anak desa itu untuk belajar.

4. Keberadaan guru peserta program SM3T selain menambah jumlah guru juga memotivasi guru yang lain agar mau melakukan hal hal diluar kebiasaan atau rutinitas yang selama ini sudah terjadi. Guru di sekolah yang ditempati menjadi mau membuka diri. Dengan demikian ada sedikit keterbukaan dan membawa suasana yang berbeda. Misalnya lewat event event lomba akademis dan non akademis yang diadakan oleh guru-guru peserta SM3T. Event –event yang diadakan bukan hanya sekedar untuk menguji kemampuan akademis , namun diupayakan juga menyemarakan suasana sekolah, agar siswa merasa bahwa belajar itu bukan hanya soal duduk lalu membaca buku. Bahwa belajar berarti keceriaan dalam mengejar hal apa yang belum diketahui dengan cara yang menyenangkan dan menjadikan alam sekitar sebagai sumber belajar yang bisa juga ‘dibaca’ sebagai alternatif sumber pengetahuan.

Saat menulis ini saya dalam perjalanan boat menuju Tarakan, kembali ke Jakarta setelah beberapa hari berinteraksi dengan para sarjana peserta program SM3T. Senang sekali saya bisa bersilaturahmi dengan sesama guru, membuat saya semakin yakin bahwa apapun yang menjadi kendala, pendidikan Indonesia tetap bisa maju, karena ada sosok sosok yang bekerja dalam kesunyian. Dari mereka saya belajar bahwa profesi mengajar akan jadi mengasyikkan jika dilakukan dengan hati. Mengajar di daerah tertinggal, terdepan dan terluar bukan lah soal jika dilakukan dengan penuh dedikasi, persiapan cukup dan keyakinan bahwa dengan pendidikan lah negara dan bangsa ini bisa berubah.

Maju terus program SM3T !

Jati diri seorang guru di dunia media sosial

Gambar
Gambar
Pembaca yang baik , hari ini saya menulis email kepada semua guru-guru di sekolah saya Ananda Islamic School (yang disingkat AIS) saya berharap tulisan singkat untuk staff dan guru-guru saya berguna untuk anda juga.
 
Assalamualaikum
Dear teachers,

Apa sosial media yang anda pakai secara aktif saat ini? BBM, Facebook, Path atau twitter atau yang lain?
Semua individu yang mempunyai alat komunikasi yang terhubung dengan internet hampir pasti punya akun pada salah satu jenis sosial media yang saya sebut diatas.

Semua orang punya kemerdekaan pribadi dalam menaruh statusnya di sosial media miliknya. Namun lain ceritanya jika orang itu punya profesi sebagai guru. Sebagai guru secara singkatnya kita mesti punya filter atau hal-hal yang menyangkut etika sebelum membuat status. Maklum di masyarakat singkatan guru artinya orang yang bisa di ‘gugu’ dan di ‘tiru’. Digugu berarti bisa dijadikan contoh segala tindak tanduknya.

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya juga, bahwa dunia sosial media sekarang sangatlah luas dan tidak terkira jangkauannya. Saat kita membuat status, ‘teman’ dari temannya kita pun akan bisa melihat dan membaca. Bahkan orang bisa dengan mudah mengcapture status dari jenis sosial media yang tertutup seperti ‘path’untuk kemudian disebar di dunia maya.
http://www.kabar24.com/nasional/read/20140417/66/216407/dinda-pengomentar-pedas-ibu-hamil-di-kereta-akhirnya-minta-maaf

Saran saya sebelum membuat status mohon untuk mengingat hal dibawah ini:

1. apakah saya dalam keadaan kesal dan marah pada seseorang? Bagaimana pun perasaan anda dalam membuat status akan berpengaruh pada pilihan kata dan gaya bahasa. Setahu saya tidak ada masalah yang bisa selesai karena status di sosial media, yang ada mungkin malah memperkeruh suasana karena yang merasa tersindir malah bukan orang yang kita tuju. Dan jika masalah itu menyangkut rekan kerja di sekolah, selesaikan dengan baik dan profesional. Mintalah bantuan pada pihak ketiga jika merasa ada kebuntuan komunikasi.

2. Sebelum membuat status ingatlah bahwa, mungkin saja atasan kita akan membaca atau orang tua siswa kita akan membaca atau malah murid kita sendiri yang akan membaca. Anda lah yang menentukan ingin dianggap guru seperti apakah anda oleh orang tua siswa, atasan, sesama rekan kerja atau malah oleh murid kita di kelas.

3. Dunia sosial media adalah soal reputasi, dan reputasi (sedikit mirip dengan pencitraan dalam arti positif) seseorang bisa dilihat dari statusnya. Apakah statusnya menghiba-iba, curhatan atas kesulitan hidup (yang semua orang juga merasakan, bahkan mungkin lebih sengsara) atau inspirasi dan kisah inspiratif yang bisa anda bagi dengan orang lain. Jadilah guru yang pandai meng copas untuk statusnya dari sana-sini sepanjang yang di copas itu adalah ilmu  dan intisari yang bisa bermanfaat bagi orang lain.Karena orang tua siswa kita di AIS pasti akan bangga juga bisa punya guru seperti anda yang selalu optimis dan positif dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Akhirnya selamat menggunakan sosial media dengan bijak dan bagilah inspirasi pada orang lain dan bukan sekedar kata-kata kekesalan dan semua hal yang bisa memperkeruh suasana baik dalam kehidupan maupun dalam pekerjaan

SALAM AIS

Agus

berikut adalah capture email saya
Gambar